Hits

7 Jul 2012

Alternatif pengobatan bagi penderita kanker otak dan payudara

alternatif pengobatan kanker otak dan payudara Warsito P Taruno merupakan peneliti Indonesia yang berkarir di Shizuoka University, Jepang sebagai salah seorang dosen. Kemudian beliau kembali ke indonesia dengan merintis pendirian Ctech Labs (Center for Tomography Research Laboratory) Edwar Technology yang bergerak di bidang teknologi penemuan. Sejumlah sistem dan alat berhasil diciptakannya dan kini menjadi incaran dunia internasional.

Kini Warsito dan timnya tengah mengembangkan alat pembasmi kanker otak dan kanker payudara. Alat tersebut berupa teknologi pemindai atau tomografi kapasitansi listrik berbasis medan listrik statis (electrical capacitance volume tomography/ECVT). Dengan alat tersebut, tercipta empat perangkat pembasmi kanker payudara dan kanker otak. Perangkat itu terdiri atas brain activity scanner, breast activity scanner, brain cancer electro capacitive therapy, dan breast cancer electro capacitive therapy.

Brain activity scanner ditemukan sejak Juni 2010. Alat tersebut berfungsi mempelajari aktivitas otak manusia secara tiga dimensi. Bentuknya mirip helm dengan puluhan lubang connector yang dihubungkan dengan sebuah stasiun data akuisisi yang tersambung dengan sebuah komputer. Alat itu bisa mendeteksi ada tidaknya sel kanker di otak dan mendeteksi seberapa parah kanker otak yang diderita pasien. Sementara itu, breast activity scanner diciptakan pada September lalu dengan memiliki kesamaan, yakni mendeteksi adanya sel kanker di tubuh.

Selain dua alat tersebut, Warsito melengkapinya dengan membuat brain cancer electro capacitive therapy dan breast cancer electro capacitive therapy. Dua alat itu berbasis gelombang listrik statis dengan tenaga baterai. Dua alat tersebut terbukti dapat membunuh sel kanker hingga tuntas hanya dalam waktu dua bulan.

Warsito telah membuktikan keampuhan alat ciptaannya kepada kakak perempuannya yang menderita kanker payudara stadium IV. Warsito pun mengenakan alat temuannya itu kepada kakaknya selama sebulan. Penutup dada tersebut harus dipakai selama 24 jam. Pada minggu pertama, terlihat efek samping dari alat itu. Namun, efeknya tidak sampai menyiksa seperti proses kemoterapi. Hanya, keringat penderita akan berlendir dan sangat bau. Urine dan fesesnya (kotoran) pun berbau lebih busuk. Menurut Warsito, hal tersebut menandakan bahwa sel kankernya tengah dikeluarkan. ’’Bau busuk itu berasal dari sel kanker yang sudah mati dan dikeluarkan lewat urine, keringat, dan feses. Tapi, si penderita tidak merasakan sakit, hanya gerah,’’ paparnya.

Seorang pemuda berusia 21 tahun yang menderita penyakit kanker otak stadium lanjut menggunakan alat yang disesuaikan untuk dipakai di kepala. Kemudian pasien akan merasakan gerah pada bagian kepala. Pada tiga hari awal pemakaian alat tersebut, tingkat emosi pasien akan meningkat. Setelah itu, muncul gejala-gejala keringat berlendir hingga feses yang baunya lebih enggak enak. Warsito menceritakan, awalnya pemuda tersebut mengalami lumpuh total. Dia tidak bisa bangun dari tempat tidur, bahkan tidak mampu menelan makanan. Sel kanker telah menyebar di area pangkal otak penderita itu. Namun, setelah seminggu pemakaian alat tersebut, pemuda itu sudah bisa bangun dari tempat tidur serta menggerakkan tangan dan kaki. Setelah dua bulan pemakaian, pemuda tersebut sudah dinyatakan sembuh total. ’’Dua bulan sudah bersih. Sel kankernya sudah hilang,’’ papar dia.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/01/18076/warsito-p-taruno-ilmuwan-pencipta-alat-pembasmi-kanker-payudara-dan-otak/#ixzz1zt1VlSsF

Terima kasih telah membaca dan berbagi info melalui artikel Alternatif pengobatan bagi penderita kanker otak dan payudara